Komite SDN 14 Waelata Bantah Dugaan Pungutan dan Pemotongan PIP

Ilustrasi Komite SDN 14 Waelata.

BURU – Komite Sekolah Dasar Negeri (SDN) 14 Waelata, Dusun SP2, Desa Debowae, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, membantah tuduhan adanya pungutan serta pemotongan dana Program Indonesia Pintar (PIP) terhadap siswa. Bantahan tersebut disampaikan Ketua Komite SDN 14 Waelata, Ujang Sunarya, pada 5 September 2026.


Ujang menegaskan, pihak sekolah tidak pernah meminta maupun memotong dana PIP yang diterima siswa. Ia juga membantah adanya pungutan biaya berbagai kegiatan sekolah sebagaimana diberitakan sebelumnya berdasarkan keterangan sumber yang tidak disebutkan identitasnya.


“Pihak sekolah tidak pernah meminta dan memotong dana PIP serta tidak pernah memungut biaya kegiatan apa pun di sekolah seperti yang dituduhkan,” kata Ujang.


Menurut Ujang, sejumlah kegiatan seperti pembangunan pagar sekolah, pembangunan gazebo, kegiatan pramuka, serta pembelian tiga buah meterai senilai Rp50 ribu berkaitan dengan administrasi pencairan dana PIP merupakan hasil kesepakatan dan partisipasi orang tua siswa, bukan pungutan dari pihak sekolah.


Ia menyebut tuduhan tersebut telah menimbulkan polemik di lingkungan sekolah. Ujang menduga munculnya informasi tersebut berkaitan dengan adanya pihak tertentu di lingkungan pendidikan yang berupaya memicu persoalan antara kepala sekolah, pihak sekolah, dan orang tua siswa. Namun, dugaan tersebut tidak disertai bukti yang diungkapkan dalam bantahannya.


Bantahan serupa disampaikan orang tua siswa, Andi, warga Dusun SP2. Ia menyatakan tuduhan adanya pungutan dan pemotongan dana PIP di SDN 14 Waelata tidak sesuai dengan kondisi yang diketahuinya. Menurut dia, pembangunan pagar, gazebo, dan kegiatan pramuka dilakukan melalui swadaya serta partisipasi orang tua berdasarkan kesepakatan bersama.


Andi menjelaskan, pembangunan gazebo dan pagar dinilai diperlukan karena SDN 14 Waelata hanya memiliki dua ruang belajar dan belum memiliki pagar sekolah. Gazebo kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar siswa, sedangkan pagar dibangun untuk mencegah ternak, terutama sapi, masuk ke area sekolah dan mengganggu kegiatan belajar mengajar.


Ia juga menyebut sebagian biaya pembangunan pagar dan gazebo berasal dari dana pribadi kepala sekolah. Menurut Andi, kontribusi tersebut justru menunjukkan adanya upaya mendukung kebutuhan sarana dan prasarana sekolah yang belum memadai.


“Kami sangat mengapresiasi kepala sekolah SDN 14 Waelata. Semenjak beliau memimpin, sekolah ini lebih maju dan bahkan dana pribadinya rela dikeluarkan untuk membangun sekolah,” ujar Andi. (Mlk)


BACA JUGA
METROPLUS.ID

Subscribe YouTube Kami Juga Ya