![]() |
| Irigasi di Dusun Bamburaki, Desa Jatiwangi, Kecamatan Jatisari, yang belum setahun setelah dibangun sudah jebol. |
KARAWANG — Ancaman gagal panen mulai menghantui para petani di lima desa di Kabupaten Karawang. Jebolnya tanggul irigasi di Dusun Bamburaki, Desa Jatiwangi, Kecamatan Jatisari, membuat pasokan air untuk sekitar 930 hektare lahan persawahan terganggu parah. Yang memprihatinkan, tanggul tersebut dikabarkan belum genap berusia satu tahun, namun sudah mengalami kerusakan yang menghambat aliran air irigasi.
Ketua Kelompok Tani Saluyu Desa Cicinde Selatan, Taufik, menyatakan kondisi ini menjadi persoalan serius karena sejumlah wilayah saat ini tengah memasuki musim tanam. Tanaman padi yang baru saja ditanam sangat membutuhkan pasokan air secara rutin untuk tumbuh optimal.
"Di Cicinde Utara bagian barat sedang musim nandur, sehingga sangat membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mengaliri sawah," kata Taufik saat ditemui di lokasi tanggul jebol, Rabu (12/8/2026).
Menurut keterangan warga, tanggul mulai jebol pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 21.00 WIB. Hingga saat ini, penyebab kerusakan belum diketahui secara pasti, padahal konstruksinya belum genap berusia satu tahun.
"Tidak jelas apa penyebabnya tanggul ini bisa jebol. Padahal usianya belum genap satu tahun," tegas Taufik.
Akibat terganggunya aliran irigasi, para petani terpaksa memutar otak agar tanaman padi tidak kekurangan air. Salah satu cara yang ditempuh adalah menggunakan pompa air secara bergiliran untuk mengairi persawahan. Namun, kemampuan pompa tersebut sangat terbatas, hanya mampu mengairi sekitar 5 hingga 10 hektare sawah dalam satu kali pengoperasian.
"Untuk memenuhi kebutuhan air, para petani menyiasatinya dengan menggunakan pompa secara bergiliran. Itu hanya mampu mengaliri sawah sebanyak 5 sampai 10 hektare," ungkap Taufik.
Kondisi tersebut dinilai jauh tidak sebanding dengan luas lahan yang membutuhkan pasokan air. Jika perbaikan tanggul tidak segera tuntas, petani khawatir persoalan akan semakin parah dan mengganggu seluruh rangkaian musim tanam. Kekhawatiran bukan hanya soal tanaman kekurangan air dalam beberapa hari, melainkan berisiko gagal panen jika aliran air tersendat hingga masa pertumbuhan dan panen tiba.
"Harapan kami dalam waktu dekat air dapat mengalir dan jangan sampai tersendat sampai akhir musim tanam atau panen. Untuk mekanisme perbaikan ke depan seperti apa, itu terserah," ujar Taufik.
Di tengah kekhawatiran petani, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Tarum telah turun tangan melakukan perbaikan sementara. Petugas menggunakan karung berisi tanah dengan metode kisdam untuk menahan aliran air dan mengendalikan kebocoran pada bagian tanggul yang rusak, guna mempercepat kembalinya aliran air normal.
"Alhamdulillah saat ini sedang dilakukan perbaikan dengan menggunakan karung yang diisi tanah," kata Taufik.
Salah seorang petugas dari seksi Tarum BBWS di lokasi membenarkan penanganan tersebut. Ia juga mengakui usia pembangunan tanggul belum genap satu tahun, namun mengaku tidak mengetahui pihak yang mengerjakan proyek tersebut ketika ditanyakan.
"BBWS turun langsung melakukan upaya perbaikan. Tinggal menunggu kering plesteran," ujar petugas itu.
Bagi para petani, perbaikan sementara memang penting untuk segera mengembalikan aliran air. Namun, mereka juga mendesak agar perbaikan tidak sekadar ditambal, melainkan dilakukan secara serius dan menyeluruh. Persoalan mendasar mengapa tanggul yang relatif baru bisa jebol juga perlu diteliti secara transparan agar tidak terulang di masa mendatang.
Petani menegaskan, sekitar 930 hektare lahan pertanian bergantung pada kelancaran jaringan irigasi tersebut. Tanpa air yang cukup dan terjamin, tanaman padi tidak akan bertahan, dan risiko gagal panen menjadi nyata bagi ratusan keluarga petani di lima desa tersebut. (*)
