Program MBG di Kecamatan Tegalwaru Karawang Belum Merata, Baru 3 SPPG yang Beroperasi

Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Kecamatan Tegalwaru, Irfan Abdul Rasyid.

KARAWANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, hingga kini belum menjangkau seluruh penerima manfaat (PM). Dari total sasaran, baru sekitar 9.000 PM yang telah menerima porsi makan siang gratis.


Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Kecamatan Tegalwaru, Irfan Abdul Rasyid, mengungkapkan bahwa dari lima dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada, baru tiga dapur yang sudah beroperasi. Sementara dua dapur lainnya masih dalam proses verifikasi virtual account.


“Dari lima dapur SPPG, baru tiga yang berjalan. Dua lainnya masih proses verifikasi,” ujar Irfan saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/4/2026).


Salah satu dapur yang telah beroperasi adalah SPPG Tegalwaru Cintalaksana milik Yayasan Cahaya Bintang Pertiwi yang berlokasi di Kampung Munjul, Desa Cintalaksana. Dapur ini memproduksi sebanyak 3.159 porsi MBG yang didistribusikan ke 15 lembaga pendidikan, mulai dari PAUD hingga SMA sederajat.


Selain untuk siswa, program ini juga menyasar 107 penerima dari kalangan ibu hamil, ibu menyusui, serta balita usia 2 hingga 5 tahun.


Terkait biaya, Irfan menjelaskan bahwa terdapat dua kategori harga per porsi. Untuk siswa PAUD, TK, dan SD kelas 1–3, biaya ditetapkan sebesar Rp8.000 per porsi. Sementara untuk siswa SD kelas 4 hingga SMA serta ibu hamil dan menyusui sebesar Rp10.000 per porsi.


Ia juga menanggapi perbedaan dengan standar harga yang disebut mencapai Rp15.000 per porsi. Menurutnya, selisih tersebut dialokasikan untuk biaya operasional dapur sebesar Rp3.000, termasuk gaji relawan, alat tulis kantor, listrik, dan operasional kendaraan. Selain itu, Rp2.000 digunakan sebagai insentif bagi yayasan, mitra, serta pemangku kepentingan seperti aparat kecamatan, kepolisian, TNI, puskesmas, dan pemerintah desa.


Dalam proses produksi, dapur SPPG menerapkan dua tahap memasak. Untuk porsi Rp8.000 yang umumnya digunakan sebagai sarapan, proses memasak dimulai pukul 01.00 WIB dan didistribusikan sekitar pukul 07.00 WIB. Sedangkan porsi Rp10.000 dimasak mulai pukul 03.00 WIB dan didistribusikan sekitar pukul 09.00 WIB untuk makan siang.


Irfan menegaskan bahwa setiap makanan yang diproduksi tetap mengacu pada standar gizi yang ditetapkan, dengan menu yang bervariasi setiap minggu dan memperhatikan kandungan karbohidrat, protein, vitamin, serta serat.


Ia juga mengimbau pihak sekolah untuk aktif berkoordinasi guna menjaga kualitas makanan yang didistribusikan.


“Kami minta sekolah turut mengawasi agar makanan tetap layak konsumsi dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti makanan basi,” pungkasnya. (Ade Rosadi)

BACA JUGA
METROPLUS.ID

Subscribe YouTube Kami Juga Ya