25 Tahun di Dalam Tanah, Jasad Abah Usman Tetap Utuh: Keajaiban Pencinta Al Qur'an dari Cilamaya

Foto: ilustrasi.

METROPLUS.ID - Sudah lebih dari seperempat abad jasad Abah Usman bersemayam dalam sunyi perut bumi yang sunyi, gelap dan pengap. 


Berlokasi Di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, jasadnya seolah menantang hukum alam: tak tersentuh ulat tanah, tak digerogoti cacing, bahkan kain kafan dan talinya tetap utuh (putihnya seperti baru saja memeluk tubuhnya kemarin sore). 


Waktu seakan berhenti di pusara itu, seperti enggan mengusik seorang hamba yang dijaga.


Kisah ini bermula dari mimpi yang datang berulang, bukan sekali dua kali, melainkan seperti gelombang yang tak pernah lelah menghantam tepian. Salah satu putra Abah Usman, KH Jaja, terus didatangi sosok ayahnya dalam tidur. 


Pada awalnya, mimpi itu dianggap sekadar bunga tidur. Namun, mimpi itu tidak menyerah. Ia kembali, lagi dan lagi, seperti pesan yang memaksa untuk didengar.


KH Jaja, yang kini menjadi pimpinan pondok pesantren di Bumiayu, Jawa Tengah, mulai merasakan bahwa mimpi itu bukan sekadar ilusi. 


Dalam mimpi tersebut, Abah Usman memohon dengan lirih namun menusuk, agar makamnya dipindahkan. “Kakiku diinjak-injak,” seolah begitu pesan yang menggema, sederhana namun menggetarkan.


Semakin hari, kehadiran Abah Usman dalam mimpi itu kian nyata, kian mendesak, seperti suara dari alam lain yang tak bisa lagi diabaikan.


Akhirnya, KH Jaja membuka cerita itu kepada keluarga. Musyawarah pun digelar dan akhirnya diputuskan kalau makam Abah Usman akan dipindahkan.


Saat liang lahat itu dibuka, suasana mendadak hening—hening yang terasa lebih pekat dari malam tanpa bintang. Semua mata terpaku.


Semua napas tertahan. Dan saat itulah, kenyataan yang terhampar seolah mengguncang logika: jasad Abah Usman masih utuh. Kain kafannya masih rapi, tak lusuh, tak lapuk, seolah waktu tak pernah berani menyentuhnya.


Seperti rahasia yang akhirnya menemukan jawabannya, posisi jasad itu mengungkap sebab dari mimpi-mimpi tersebut. Kaki Abah Usman ternyata menjorok ke arah dalam mushola, tempat orang-orang berlalu-lalang untuk beribadah. Di situlah misteri itu terkuak—bahwa “keluhan” dalam mimpi bukanlah ilusi, melainkan isyarat yang nyata.


Akhirnya, jasad Abah Usman dipindahkan ke tempat yang tak jauh dari makam semula. Kini ia beristirahat di kompleks Yayasan Al Ustmaniyah atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Bani Usman.


Bani Usman senduru meruoaka sebuah tempat anak-anak dalam mengenyam pendidikan agama Islam.


Semasa hidupnya, Abah Usman dikenal sebagai pecinta Al-Qur’an. Mungkin ia bukan ulama besar yang namanya menggema ke penjuru negeri, namun cintanya kepada Al-Qur’an mengalir deras seperti sungai yang tak pernah kering.


Ia menanamkan kecintaan itu kepada anak-anaknya, mengantarkan mereka ke majelis ilmu dan pesantren. Kini, puluhan anak dan cucunya menjelma menjadi para penghafal Al-Qur’an—seakan menjadi cahaya yang terus menyala dari jejak hidupnya.


Kisah ini bukan sekadar cerita, melainkan pengingat: bahwa cinta kepada Al-Qur’an tak pernah sia-sia. Ia akan berbuah, bahkan ketika raga telah lama kembali ke tanah.


Wallahua’lam bisshawab.


Cerita ini disampaikan oleh KH Ahmad Muhsin Alhafidz, Ketua JQHNU Cilamaya Kulon, dalam pembukaan Rapat Kerja JQHNU ke-2 di Yayasan Al Ustmaniyah. KH Ahmad Muhsin juga merupakan salah satu pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Miftahul Khoirot, Manggungjaya, Cilamaya Kulon.



BACA JUGA
METROPLUS.ID

Subscribe YouTube Kami Juga Ya