![]() |
| Ilustrasi petani Karawang. |
KARAWANG — Keluhan petani kembali mencuat di Kabupaten Karawang, daerah yang dikenal sebagai lumbung padi nasional. Ironisnya, meski Karawang menjadi lokasi berdirinya pabrik pupuk dan baru-baru ini Bupati Karawang Aep Syaepuloh menerima Tanda Kehormatan Satya Lencana Wira Karya dari Presiden RI Prabowo Subianto atas kontribusi sektor ketahanan pangan, petani justru mengaku kesulitan mendapatkan pupuk.
Sejumlah petani di Kecamatan Purwasari menyampaikan distribusi pupuk dinilai tidak merata dan cenderung bermasalah. Untuk satu hektare sawah, kebutuhan pupuk disebut mencapai 5–6 kuintal, namun realisasi di lapangan jauh dari mencukupi.
“Teu sarua menangna, aya nu loba aya nu saeutik. Aya nu sawahna saeutik tapi meunang loba,” keluh seorang petani, Kamis (22/1/2026).
Petani mengaku pupuk diperoleh melalui kelompok tani. Jika sebelumnya distribusi dinilai lancar, kini jumlah pupuk yang diterima terus menurun.
“Dulu mah aman, bisa satu ton. Ayeuna tinggal 2,5 kuintal. Nu saeutik sawahna malah aya nu meunang 1,5 kuintal,” ujarnya.
Kondisi ini memperlihatkan kontras antara status Karawang sebagai penopang ketahanan pangan nasional dengan realita di lapangan, di mana petani sebagai ujung tombak produksi masih dihadapkan pada tata kelola distribusi pupuk yang lemah, kuota terbatas, dan birokrasi berlapis. (Bdg)
