![]() |
| Ibnu, Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka.KPLP) Lapas Warung Kiara. |
SUKABUMI – Di balik kokohnya tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi, berdiri sosok perwira pemasyarakatan yang dikenal tegas namun tetap humanis. Ia adalah Ibnu, yang kini mengemban amanah sebagai Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (Ka.KPLP) Lapas Warung Kiara.
Perjalanan karirnya hingga menduduki jabatan strategis tersebut tentu bukan sesuatu yang instan. Dibutuhkan proses panjang, dedikasi, loyalitas, serta integritas yang tinggi. Jabatan yang diembannya menuntut tanggung jawab besar karena bersentuhan langsung setiap hari dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Tugas sebagai Ka.KPLP dikenal sebagai salah satu ujung tombak operasional di Lapas. Ia bertanggung jawab penuh terhadap sistem keamanan, ketertiban, hingga mengawal setiap program pembinaan agar berjalan aman dan kondusif. Bukan pekerjaan yang mudah, dibutuhkan mental yang kuat, kejelian, dan kedisiplinan ekstra.
Namun, di balik ketegasannya dalam menegakkan aturan, sosok Ibnu dikenal memiliki pribadi yang jauh dari kesan angker. Ia adalah figur yang rendah hati, bersahaja, dan selalu merendah dalam pergaulan sehari-hari bersama rekan kerja maupun warga binaan.
"Beliau orangnya tegas dan disiplin dalam pekerjaan, tapi sangat rendah hati. Tidak pernah memandang bulu, selalu merendah dan enak diajak bicara," ujar salah satu sumber di lingkungan Lapas Warung Kiara.
Kedekatannya dengan insan pers pun patut diapresiasi. Ibnu dikenal sangat bersahabat dengan para awak media. Ia selalu terbuka, komunikatif, dan menghargai peran media sebagai mitra kerja pemasyarakatan dalam menyampaikan informasi yang positif dan berimbang kepada publik.
Keterbukaan ini menciptakan hubungan harmonis antara institusi dan masyarakat. Sikap terbuka yang ditunjukkan Ibnu membuktikan bahwa transparansi tetap dijaga, meskipun berada di lingkungan yang tertutup dan penuh pengawasan.
Sikap ini yang membuatnya dihormati, baik oleh jajaran petugas Lapas maupun oleh Warga Binaan itu sendiri. Ketegasan yang dibalut dengan pendekatan humanis menjadi kunci Ibnu dalam menjaga stabilitas keamanan di dalam Lapas Warung Kiara.
Ia tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga memahami aspek kemanusiaan dalam setiap kebijakannya. Pendekatan yang tidak sekadar mengandalkan kekuatan pengamanan, melainkan juga menyentuh sisi kemanusiaan, membuat perintah-perintahnya lebih mudah dipatuhi.
Dengan kepemimpinan yang disiplin namun tetap mengedepankan hati, Ibnu membuktikan bahwa menjadi petugas pemasyarakatan bukan hanya soal menjaga, tetapi juga soal membina dan menjadi teladan bagi seluruh insan di dalamnya. (*)
