![]() |
| Pembelajaran hitung cepat Stenomat. |
KARAWANG — Program Pesantren Ramadhan di Karawang menghadirkan pendekatan unik dengan menggabungkan pembelajaran matematika yang menyenangkan dan penguatan nilai keislaman selama bulan suci. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh penemu metode hitung cepat Stenomat, Nanang Anwarudin.
Program ini bertujuan membentuk karakter sekaligus meningkatkan literasi numerasi peserta didik. Fokus utama kegiatan adalah menjawab persoalan umum di kalangan siswa, seperti kurangnya minat terhadap matematika, belum lancar berhitung, hingga belum menguasai tabel perkalian meski telah lulus sekolah dasar.
Pengelola PKBM Assolahiyah, Hendi Sukma Satria, mengungkapkan bahwa lemahnya penguasaan perkalian menjadi akar kesulitan dalam memahami pembagian dan materi matematika lanjutan.
“Ketidakmampuan menguasai aritmatika dasar sejak dini dapat berdampak panjang. Siswa menjadi bergantung pada kalkulator, kemampuan analisis menurun, bahkan cenderung menghindari pelajaran eksakta di jenjang lebih tinggi,” ujarnya.
Secara umum, literasi numerasi merupakan kemampuan mengaplikasikan operasi hitung dan konsep bilangan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menginterpretasikan informasi kuantitatif. Berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2017), literasi numerasi juga mencakup kecakapan menggunakan simbol dan angka untuk memecahkan masalah, menganalisis informasi, serta mengambil keputusan.
Dalam program ini, peserta diperkenalkan metode Stenomat (Stenografi Matematika), yaitu teknik berhitung cepat yang menitikberatkan pada kemudahan dan kecepatan, khususnya dalam operasi perkalian tanpa harus menghafal tabel konvensional.
Metode ini menggunakan pendekatan jari tangan dan visualisasi yang dikenal sebagai “mantra jari steno”. Teknik tersebut dirancang agar mudah dipahami oleh anak-anak maupun orang dewasa, bahkan memungkinkan penguasaan dasar perkalian dalam waktu singkat, mulai dari 60 menit hingga beberapa hari.
Selain itu, metode Stenomat dikemas dalam bentuk kaidah sederhana dan lagu agar lebih mudah diingat. Pola pembelajaran meliputi teknik membuka jari untuk perkalian satu dan dua, memasangkan jari untuk perkalian tiga hingga tujuh, serta menutup jari pembatas untuk perkalian delapan dan sembilan.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan berhitung siswa, tetapi juga menumbuhkan minat belajar matematika sejak dini serta memperkuat karakter melalui pendekatan religius selama Ramadhan. (*)
